
PALEMBANG, sibermediasumateraindonesia. Com- Di tengah riuhnya sentralisasi kebijakan di Jakarta, sebuah narasi pembangunan berbasis bentang alam dan kedaulatan lokal perlahan menguat dari tepian Sungai Musi. Ir. H. Eddy Santana Putra, MT, seorang teknokrat yang meniti karier dari birokrasi akar rumput, kini menjadi simbol pergeseran paradigma kepemimpinan yang menekankan bahwa kekuatan Indonesia sejatinya berakar pada ketangguhan daerah.
Bagi masyarakat Sumatera Selatan, sosok Eddy bukan sekadar politisi. Ia adalah insinyur yang memahami anatomi tanah aluvial dan hidrologi wilayahnya. Lulusan Teknik Sipil Universitas Sriwijaya yang mendalami Magister Pengelolaan Sumber Daya Air ini, memulai langkahnya pada 1986 di Dinas Pekerjaan Umum Musi Rawas. Di sanalah, pemahamannya terhadap konflik agraria, kebutuhan irigasi petani, dan pentingnya konektivitas infrastruktur pedesaan terbentuk.
Menata Kota, Menjaga Ekosistem Ekonomi
Selama dua dekade menjabat sebagai Wali Kota Palembang (2003-2013), Eddy menerapkan pendekatan yang kini sering disebut sebagai pembangunan berkelanjutan. Di bawah kepemimpinannya, Palembang tidak hanya bersolek secara estetika, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi lokal. Salah satu warisan yang sering disorot adalah keberhasilannya mengorkestrasi industri pempek lokal hingga mencapai omzet triliunan rupiah.
Dalam perspektif ekonomi sosiologis, ini bukan sekadar angka, melainkan upaya memperkuat rantai pasok hilirisasi produk perikanan dan UMKM yang menjadi bantalan ekonomi rakyat saat krisis melanda.
Eddy secara konsisten menyuarakan bahwa pemerintah daerah harus menjadi garda terdepan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan ketimpangan sosial. “Pemerintah daerah adalah pemimpin garda terdepan,” tegasnya dalam berbagai kesempatan. Baginya, strategi pembangunan harus holistik—mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan keadilan sosial bagi masyarakat rentan yang seringkali terpinggirkan oleh proyek strategis nasional yang bersifat top-down.
Integritas di Tengah Arus Perubahan
Rekam jejaknya yang diakui melalui penghargaan Satya Lencana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia menjadi bukti dedikasi panjang dalam birokrasi. Namun, tantangan ke depan jauh lebih kompleks. Sumatera Selatan, dengan kekayaan sumber daya alamnya, memerlukan nakhoda yang mampu menyeimbangkan antara eksploitasi ekonomi dan konservasi lingkungan.
Di tengah bangsa yang terus mencari bentuk reformasi tata kelola, kehadiran figur dengan basis teknokratis dan akar lokal yang kuat seperti Eddy Santana Putra menawarkan sebuah antitesis terhadap politik transaksional. Ia membawa pesan bahwa kedaulatan Indonesia tidak diukur dari gedung pencakar langit di ibu kota, melainkan dari sejauh mana rakyat di pelosok daerah, dari rawa-rawa pasang surut hingga perkebunan rakyat, merasakan kehadiran negara.
Kekuatan tegas itu kini berakar di Palembang, bersiap untuk merajut kembali masa depan Indonesia yang lebih tangguh dan berkeadilan.
OLEH: ANANDA E-RA BARU / Analis Tata Kelola Daerah
